Perkuat Sinergi Konservasi, Biologi UIN Bandung Gelar Kuliah Umum dan Jalin Kerjasama dengan The Aspinall Foundation Indonesia

BANDUNG, 29 April 2026 – Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung sukses menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Peluang Kehidupan Kedua: Melalui Rehabilitasi dan Lepas Liar Primata dari Hasil Peredaran Ilegal”. Acara ini menjadi momentum penting dalam penguatan kolaborasi antara akademisi dan praktisi konservasi dari The Aspinall Foundation (TAF) Program Indonesia.
Mendukung Pencapaian SDGs
Tema kegiatan ini selaras dengan komitmen global dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Poin 15: Life on Land. Melalui rehabilitasi satwa endemik, kegiatan ini berkontribusi langsung pada upaya menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati dan mencegah kepunahan spesies yang terancam punah. Selain itu, kolaborasi ini mencerminkan implementasi SDGs Poin 17: Partnerships for the Goals, di mana sinergi antara lembaga pendidikan dan organisasi non-pemerintah (NGO) menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem darat.
Penguatan Kerjasama Strategis
Acara ini dihadiri langsung oleh Undang Syaripudin, S.H., M.Kom., Ph.D selaku Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama, dan Alumni FST UIN Bandung. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis fakultas dalam memperluas jejaring kemitraan yang berdampak langsung pada kompetensi lulusan.
“Kehadiran The Aspinall Foundation hari ini bukan sekadar memberikan materi, tetapi merupakan wujud nyata dari sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga konservasi internasional. Kami berkomitmen untuk terus memfasilitasi mahasiswa agar memiliki akses langsung ke dunia profesional, khususnya dalam bidang pelestarian lingkungan,” tutur Wakil Dekan 3.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, dilakukan pula penandatanganan dokumen kerja sama antara FST UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan The Aspinall Foundation Indonesia untuk membuka peluang program magang, penelitian kolaboratif, serta pengabdian masyarakat.
Apresiasi Ketua Jurusan dan Harapan Pelaksana Ketua Jurusan Biologi, Dr. Ateng Supriyatna, M.Si., menyampaikan bahwa wawasan lapangan sangat krusial bagi mahasiswa untuk melihat implementasi nyata dari teori yang dipelajari. Hal ini senada dengan pandangan Ketua Pelaksana kegiatan Dr. Ana Widiana, M.Si.
“Harapannya, mahasiswa lebih memahami penanganan konservasi satwa, bisa terlibat langsung, dan membantu masyarakat sadar tentang arti penting keberlanjutan lingkungan. Tindak lanjut kerja sama ini diharapkan meningkatkan kolaborasi Non Government Organization (NGO)dan Perguruan Tinggi dalam menjaga keseimbangan alam,” ungkap Ketua Pelaksana.
Proses Kompleks Penyelamatan Primata

Kuliah umum ini menghadirkan Direktur TAF Indonesia, Made Wedana, sebagai pemateri utama yang dipandu oleh Adisty Virakawugi D, M.Si. selaku moderator. Dalam paparannya, Made Wedana mengupas tuntas aspek teknis dan etis dalam memberikan “kesempatan kedua” bagi primata seperti Owa Jawa, Lutung Jawa, dan Kukang.
Beberapa poin penting yang dielaborasi meliputi:
- Dampak Psikologis & Perilaku: Satwa hasil sitaan seringkali mengalami degradasi insting liar. Proses rehabilitasi fokus pada penghilangan ketergantungan terhadap manusia agar mereka kembali mampu mencari makan dan mengenali predator.
- Aspek Medik Veteriner: Penjelasan mengenai skrining penyakit zoonosis untuk memastikan satwa yang dilepasliarkan tidak membawa wabah ke populasi liar di hutan.
- Ekologi Habitat & Pakan: Keberhasilan konservasi sangat bergantung pada kualitas habitat. Dipaparkan data mengenai kekayaan flora pendukung seperti pohon Puspa, Rasamala, dan aneka Piperaceae yang menjadi sumber pakan alami utama.
- Metode Monitoring: Penggunaan teknologi pemantauan pasca-lepas liar untuk memastikan satwa mampu membentuk teritorial dan bereproduksi di alam.
Membangun Kesadaran Konservasi Kegiatan ini menekankan bahwa konservasi adalah tanggung jawab kolektif. Melalui edukasi ini, mahasiswa diharapkan menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan gerakan anti-perdagangan satwa liar dan menjaga biodiversitas Indonesia tetap lestari di habitat aslinya.
(MGH)

